Nuri Anhari
Kamis, 24 Desember 2015
Ketika kau lebih dari semua yang ku miliki. Baru ku sadari bahwa aku mungkin tak begitu pantas bersanding erat di sampingmu selalu. Kau jauh lebih cantik dariku, lebih menarik, memikat, mempesona, bahkan lebih mampu mempersuasi semua orang. Maaf, aku begitu hina untuk menjadi kawan dekatmu. Aku tak iri atas semua perbedaan ini, namun aku hanya membahas bagaimana aku dan kamu mendapat bagian dari nasib. Semua yang menyukaiku sudah pasti menyukaimu, bahkan apa yang ku miliki kini adalah milikmu dulu. Lebih tepatnya bekas milikmu, kini baru bisa ku miliki. Sedangkan yang menyukaimu justru hal yang membenciku, mengutuk dari adanya aku. Hal lebih apa yang sebenarnya telah ku lakukan hingga begitu berbanding terbalik. Maaf, bodohnya aku tak menyadari bahwa sedari awal memang kita berbeda ibarat kau ratu aku hanya prajurit busuk tak berarti. Terimakasi kau telah membukakan mataku, bahwa memang dunia tak sebaik yang kukira, dunia tak seindah bayangan ku, dunia tak sesimbang yang aku harapkan.
Aku yang kini hanya menikmati kesempurnaanmu, semoga kau tak akan merasakan perihnya rasaku.
Aku menyayangimu jika kau tau.
Rabu, 16 Desember 2015
INDONESIA merah putih
Begitu banyak ingatan tentang sejarah, tanpa sadar ku tlah berusaha melihat masa yang amat sulit bagi Indonesia, dimana kekerasan menerkam tanpa henti, kelaparan mencekik setiap nafas, kemiskinan menjadi sebuah takdir, maka matipun menjadi hal yang fardhu terjadi di setiap inci kehidupan.
Lalu apa artinya hamba, debu saja masih berarti penting untuk mempertahankan kehidupan pejuang. Lebih begitu hinakah hamba daripada debu, hanya mampu terus menerus mencaci para pejabat pemerintah yang berperan untuk republik. Hanya berperan menikmati kemerdekaan. Hanya terpaku dalam kediaman diujung bangku peekuliahan.
Kini aku sadar dan paham bahwa " apa yang sudah kuberikan pada negri ku, bukan apa yang sudah diberikan negri dan seluruh tata pemerintahan negri ini untukku " ?
Move on kawan, kau sudah dewasa, kau generasi yang diharapkan mereka, bukan sebagai pengecut tapi sebagai pejuang yang siap kalah juga menang.
Kumulai langkahku kini, menjadi berarti untuk yang aku cintai, terutama untuk negriku tercinta INDONESIA.
Selasa, 15 Desember 2015
Comrade
Minggu, 13 Desember 2015
Jenis-Jenis Ingatan (Memori)
Sabtu, 05 Desember 2015
TANAH AIRKU
Tanah air ku tidak ku lupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negri ku jalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak ku lupakan
Engkau ku banggakan
Resume Jurnal Biopsikologi Hormon
RESUME JURNAL BIOPSIKOLOGI
BAB HORMON
NO
JUDUL
PENULIS
METODE
TEMA
LATAR BELAKANG
HASIL PENELITIAN
KOMENTAR
1
Hubungan antara Obesitas dan Keturunan dengan Kejadian Diabetes Mellitus di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Labuang Baji Makassar
Erwan1
H.Abd.Kadir2
Penelitian deskriptif kolerasional dengan metode cross sectional
Hubungan antara obesitas dengan diabetes mellitus.
Mengetahui fakta mengenai hubungan antara obesitas dengan diabetes mellitus.
Tidak ada hubungan antara obesitas dengan diabetes mellitus, terdapat hubungan antara riwayat keturunan dengan kejadian diabetes mellitus.
Adapun penyajian jurnal sangat terperinci dan jelas, seperti di tampilkannya data dari hasil penelitian, sehingga mempermudah dalam mempelajari dan mengambil kesimpulan dari isi jurnal.
2
Peran High Sensitivity C-Creative Protein (Hs-CRP) sebagai Penanda Inflamasi, Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang terhadap Derajat Premenstrual Syndrome pada Wanita Usia Subur
Anastasia A.Basir1
Uleng Bahrun2
Irfan Idris3
Pendekatan cross sectional study menggunakan tehnik purposive sampling
Peran high sensitivity creative pada indeks masa tubuh dan resiko terjadi premenstrual syndrome
Mengetahui hal yang beresiko terhadap terjadinya premenstrual syndrome.
Kadar hs-CRP, indeks masa tubuh dan ukuran lingkar pinggang beresiko untuk terjadi premenstrual syndrome.
Memiliki kelengkapan pendataan dari hasil penelitian yang dilakukan, namun alangkah baiknya dapat dilakukan penelitian dengan membandingkan responden dengan usia dibawah 40 tahun dan yang berusia di atas 40 tahun, yang di abaikan dalam penelitian ini.
3
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberian Asi
Wahyuni
Faktor yang mempengaruhi pengeluaran dan pemberian ASI oleh ibu terhadap anak.
Mengetahui dan memberikan pengertian terhadap pembaca pentingnya pemberian ASI oleh ibu terhadap anaknya.
Faktor yang meningkatkan pengeluaran ASI terkait dengan refleks oksitosin yaitu: 1) Naluri ketika melihat bayi akibatnya hormon akan bekerja dan payudara siap mengeluarkan ASI. 2) Pemikiran tentang bayinya, akan mempengaruhi hormon oksitosn memproduksi ASI. 3) Jika mendengar bayinya menangis. 4) Kesigapan ibu untuk mencari apa yang dibutuhkan anak ketika mendengar tangisannya. 5) Ibu yang menyusui dalam keadaan tenang atau tidak stres.
Penyajian jurnal ini banyak di perkuat oleh pendapat-pendapat para ahli dan penelitian yang telah terdahulu, sehingga tidak di ragukan kebenarannya, tetapi di sini tidak di jelaskan menggunakan metode apa dalam penelitiannya.
4
Manfaat Senam Otak (Brain Gym) dalam Mengatasi Kecemasan dan Stres pada Anak Sekolah
Setiyo Purwanto1
Ranita Widyaswati2
Nuryati3
Manfaat dari senam otak (brain gym)
Meberi pengetahuan terhadap pembaca begitu banyak manfaat dari brain gym, terutama untuk pelajar dan mengajak untuk melakukannya.
Manfaat brain gym dapat digunakan untuk membantu pelajar lebih siap menerima pelajaran, memperbaiki rentang konsentrasi, meningkatkan fokus dan daya ingat, memperbaiki kemampuan berkomunikasi dan mengendalikan emosi yang itu semua bisa terjadi ketika adanya pengaruh dari hormon yang dihasilkan.
Selain menjelaskan mekanisme brain gym di sini juga dijelaskan mekanisme kerja otak yang berhubungan dengan brain gym. Adanya pemaparan lengkap mengenai kemanfaatan brain gym yang belum diketahui banyak orang. Ini membuat pembaca menjadi tertarik untuk melakukan kegiatan brain gym.
5
Hubungan antara Paritas Ibu dengan Kejadian Postpartum Blues
Masruroh
Penelitian analitik kolerassional dengan desain penelitian cross sectional
Faktor yang mempengaruhi terjadinya postpartum blues.
Mengetahui fakta tentang hubungan antara paritas ibu dengan kejadian postpartum blues.
Tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan kejadian postpartum blues, malainkan ada faktor lain yang mempengaruhi terjadinya postpartum blues trsebut.
Memiliki isi dan data yang cukup jelas, mudah dimengerti karena juga disertakan tabel dari hasil penelitian.
Hubungan Akidah Ibadah dan Akhlak Tasawuf
HUBUNGAN ANTARA AQIDAH, IBADAH(SYARIAT), DAN AKHLAK TASAWUF
Tugas ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf
Disusun oleh :
Asri Palupi (15710073)
Maynda Indhi Putri (15710079)
Nuri Khoirun NA (15710085)
Rahmaniar Asysyifa S (157100)
PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Jalan Marsda Adisucipto 1 Tlp. (0274) 519739, Fax. (0274) 540971 Yogyakarta 55281
2015
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Sebagai umat Islam yang hidup di zaman modern serba sibuk ini, kadang kita lalai melaksanakan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba Allah yaitu dengan beribadah. Tak hanya masalah ibadah saja, masalah aqidah (keyakinan), akhlak dalam kehidupan sehari haripun kita sering tidak memperdulikannya. Padahal sebagaimana kita tahu, aqidah atau sering di analogikan sebagai iman itu sebagai pondasi kita dalam berperilaku dan beribadah pada Allah. Syariat atau ibadah sebagai bentuk penghormatan dan pengorbanan kita pada Allah. Dan Akhlak sebagai cerminan hati kita dalam berperilaku.
Aqidah, ibadah, dan akhlak tasawuf juga merupakan ketiga hal yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu hendaknya kita harus saling mensinkronkan satu sama yang lainnya. Namun problematika orang zaman sekarang adalah terkadang meninggalkan salah satu atau salah dua dari ketiga hal tersebut. Padahal untuk mencapai kehidupan yang baik adalah dengan saling melengkapi satu dengan yang lain di dalam ketiga hal tersebut.
RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan Aqidah ?
Apa yang dimaksud dengan Ibadah (syariat) ?
Apa yang dimaksud dengan Akhlak Tasawuf ?
Apa hubungan antara Aqidah, Ibadah (syariat), dan Akhlak Tasawuf ?
BAB II
PEMBAHASAN
AQIDAH
Ajaran Islam meliputi tiga hal, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Akidah adalah hal yang pertama dan utama yang harus kita miliki. Akidah adalah pokok (usul) dan dasar dalam agama. Akidah adalah pondasi dari segala amal yang akan kita lakukan. Amal dan akhlak tidak ada nilainya bila tidak didasarkan pada akidah atau keimanan yang benar.
Pengertian Akidah
Akidah berakar dari kata Aqoda ya’qidu yang berarti tali pengikat sesuatu dengan yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika masih dapat dipisahkan berarti belum ada pengikat dan sekaligus berarti belum ada akidahnya. Dalam pembahasan yang masyhur akidah diartikan sebagai iman, kepercayaan atau keyakinan.
Dalam kajian Islam, akidah berarti tali pengikat batin manusia dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Esa yang patut disembah dan Pencipta serta Pengatur alam semesta ini. Akidah sebagai sebuah keyakinan kepada hakikat yang nyata yang tidak menerima keraguan dan bantahan. Apabila kepercayaan terhadap hakikat sesuatu itu masih ada unsur keraguan dan kebimbangan, maka tidak disebut akidah. Jadi akidah itu harus kuat dan tidak ada kelemahan yang membuka celah untuk dibantah.
Sedangkan M. Syaltut menyampaikan bahwa akidah adalah pondasi yang di atasnya dibangun hukum syariat. Syariat merupakan perwujudan dari akidah. Oleh karena itu hukum yang kuat adalah hukum yang lahir dari akidah yang kuat. Tidak ada akidah tanpa syariat dan tidak mungkin syariat itu lahir jika tidak ada akidah.
Ilmu yang membahas akidah disebut ilmu akidah. Ilmu akidah menurut para ulama adalah sebagai berikut:
Syekh Muhammad Abduh mengatakan ilmu akidah adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap ada pada-Nya, juga membahas tentang rasul-rasul-Nya, meyakinkan mereka, meyakinkan apa yang wajib ada pada mereka, apa yang boleh dihubungkan pada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkan kepada diri mereka.
Ibnu Khaldun mengartikan ilmu akidah adalah ilmu yang membahas kepercayaan-kepercayaan iman dengan dalil-dalil akal dan mengemukakan alasan-alasan untuk menolak kepercayaan yang bertentangan dengan kepercayaan golongan salaf dan ahlus sunnah.
Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu akidah adalah ilmu yang membicarakan segala hal yang berhubungan dengan rukun iman dalam Islam dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang meyakinkan.
Sebagaimana telah kita diketahui bahwa agama Islam itu berasal dari empat sumber: al-Qur’an, hadis/sunnah Nabi, ijma’(kesepakatan) dan qiyas. Akan tetapi untuk akidah Islam sumbernya hanya dua saja, yaitu al-Qur’an dan hadis sahih, Hal itu berarti akidah mempunyai sifat keyakinan dan kepastian sehingga tidak mungkin ada peluang bagi seseorang untuk meragukannya. Untuk sampai pada tingkat keyakinan dan kepastian ini, akidah Islam harus bersumber pada dua warisan tersebut yang tidak ada keraguan sedikitpun bahwa ia diketahui dengan pasti berasal dari Nabi. Tanpa informasi dari dua sumber utama al-Qur’an dan hadis, maka sulit bagi manusia untuk mengetahui sesuatu yang bersifat gaib tersebut.
IBADAH (SYARIAT)
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk.
Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
- Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
- Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
- Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).
Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hubungan Ibadah dengan Akidah
Bila aqidah seseorang telah kokoh maka keimanannya akan semakin kuat, sehingga dalam praktek pelaksanaan ibadah tidak akan terjerumus pada praktek ibadah yang salah.
Hubungan Ibadah dengan Akhlak
Ibadah dan akhlak merupakan sesuatu yang menyatu. Dalam melakukan ibadah mengandung implikasi akhlak (sikap perbuatan). Sama halnya saat berakhlak merupakan akibat melakukan ibadah yang teratur, baik dan benar.
AKHLAK TASAWUF
AKHLAK
Kata "akhlak" berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun خلق yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai tingkah laku.
Akhlak menurut Imam Al-Ghozali ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
Definisi akhlak menurut M. Abdullah Dirroz, akhlak adalah suatu kekuatan yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat).
Pokok Persoalan Akhlak :
Memelihara dan mengendalikan manusia, agar terhindar dari bahayanya terhadap kehidupan manusia atas kemajuan yang dialaminya yang ditandai dengan adanya kecenderungan menganggap bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidupnya adalah nilai material, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual.
Menanamkan pada diri kita sikap kesederhanaan dan perasaan kecukupan, guna menghindarkan dari persaingan hidup yang tidak sehat yang kemudian dapat menimbulkan sikap tamak (rakus).
Menanggulangi dengan sikap pemurah, atas adanya sikap kikir yang disebabkan oleh terlalu mengejar nilai materi.
Manfaat akhlak, berfungsi memberikan panduan kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan tersebut baik atau buruk.
TASAWUF
Kata "tasawuf" berasal dari bahasa Arab تصوف- يتصوف- تصوفا yang diistilahkan dalam kaidah bahasa Arab berarti menjadi atau berpindah.
Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan (laranganNya) menuju kepada (perintahNya).
Tasawuf menurut Imam Al Ghozali adalah budi pekerti, barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti iya memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur (petunjuk) islam. Dan Ahli Zuhud yang jiwanya menerima (perintah) untuk melakukan beberapa akhlak (terpuji) karena mereka telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk) imannya.
Tujuan tasawuf untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan.
Hubungan antara akhlak tasawuf dengan syari'ah
syari’at mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tasawuf sunni, yakni tasawuf yang hanya sampai pada batas ma’rifat, karena tasawuf mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Ajaran yang menekankan aspek akhlak baik dalam hubungan antar manusia dan Tuhan maupun dalam hubungan antar sesama manusia dalam lingkungannya.
Ajaran diselaraskan sepenuhnya dengan pertimbangan ilmu syari’ah.
Ajaran tidak mengandung syathabat yang dipandang telah menyimpang dari ajaran islam menurut ulama syari’at.
Dalam tasawuf sunni masih terlihat secara jelas perbedaan antara ‘abid dan Ma’bud, serta antara Kholik dan makhluk.
Dengan demikian terlihat bahwa syari’ah menolak ajaran tasawuf falsafi yang bertujuan untuk mencapai kemanunggalan antara manusia dan Tuhan baik berupa ijtihad, hulul, wahdat al-wujud maupun yang sejenisnya menurut pandangan syari’ah kemanunggalan antara manusia dan Tuhan mustahil terjadi, karena Tuhan adalah Dzat yang wajib adanya, Maha Sempurna, dan bersifat Qadim, sedangkan manusia (makhluk) adalah mungkin adanya, tidak sempurna, dan bersifat hadits. Oleh karena itu, mustahil terjadi kemanunggalan antara manusia dan Tuhan. Barangkali inilah yang menjadi landasan ulama syari’ah untuk menolak ajaran tasawuf tersebut.
Hubungan akhlak tasawuf dengan akidah
Tasawuf merupakan salah satu dari tiga tiang asas agama Islam. Ia merupakan dimensi kerohanian bagi agama ini. Dengannya Iman dan keyakinan menjadi lebih kuat, perlaksanaan terhadap tuntutan syariat menjadi lebih sempurna dan penghayatan nilai-nilai akhlak menjadi lebih berkesan. Tanpanya iman hilang kemanisannya, amal ibadah hilang khusyuknya dan akhlak hilang kemurniannya. Ia seumpama kawalan keselamatan dan perhiasan bagi sesebuah rumah yang menjadikannya lebih selamat dan bernilai tinggi. Memiliki keimanan semata-mata tanpa keIslaman dan keihsanan adalah seumpama memiliki tapak rumah. Sekalipun pemiliknya ada tempat bertapak namun dia terdedah kepada kepanasan matahari dari basahan hujan. Memiliki keimanan dan keIslaman semata-mata pula tanpa keihsanan adalah seumpama memiliki tapak dan rumah yang tidak siap dan tidak sempurna. Sekalipun pemiliknya ada tempat berteduh namun ia terdedah kepada kecurian dan rumahnya tidak bernilai tinggi. Manakala ihsan pula adalah seumpama rumah yang lengkap dan berhias yang bukan sahaja selamat dihuni malah bernilai tinggi.
Dari penjelasan yang telah dibuat dapat disimpulkan bahawa tasawuf merupakan makam Ihsan yang menjadi sebahagian daripada rukun agama. Tasawuf mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan akidah di mana akidah itu adalah asasnya dan tasawuf itu berfungsi menjadikannya murni dan kukuh. Demikian juga tasawuf itu mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan syariat di mana syariat itu adalah laluan untuk mencapai tasawuf dan tasawuf itu pula berfungsi memantapkan lagi perlaksanaan terhadap syariat. Syariat tidak boleh dipisahkan daripada tasawuf dan tidak ada pertentangan di antara kedua-duanya. Tasawuf bukanlah suatu keanehan dan kepelikan tetapi ia adalah makam `ubudiyyah.
HUBUNGAN ANTARA AQIDAH, IBADAH DAN AKLHAK TASAWUF
Hubungan Aqidah, Ibadah dan Akhlak
Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak / Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang kokoh dan ibadah yang benar , Karena akhlak tersarikan dari aqidah, aqidah pun terpancarkan melalui ibadah. karena sesungguhnya aqidah yang kokoh senantiasa menghasilkan amal ataua ibadah dan ibadah pun akan menciptakan akhlakul karimah. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkanya.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka mendapatkan ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling bagus akhlaknya”. (HR. Muslim)
Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Muhammad al-Gazali mengatakan, iman yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan akhlak yang jahat dan buruk.
Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan melahirkan perangai yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya iman. Orang yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan iman. Beliau bersabda:
الحياء والايمان قرناء جميعا فاذا رفع احدهما رفع الاخر (رواه الكاريم)
”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain”. (HR. Hakim)



